Senyawa organik pada umumnya dihasilkan
oleh organisme hidup (makhluk hidup). Dalam tubuh makhluk hidup senyawa organik
disintesa melalui proses biosintesa dan dikatalisis oleh biokatalis yang
disebut enzim yang sangat spesifik. Biosintesa lebih dikenal dengan nama
metabolisme dengan proses in vivo, sehingga produk
sintesanya dikenal dengan nama metabolit. Ada dua jenis hasil metabolisme yaitu
metabolit primer yang fungsinya jelas (Biokimia) dan metabolit sekunder yang
fungsinya belum jelas pada makhluk hidup (senyawa hasil alam =natural product)
Kandungan senyawa organik khususnya metabolit
sekunder dalam makhluk hidup pada umumnya relatif rendah padahal kebutuhan akan
senyawa-senyawa organik untuk berbagai kepentingan terus meningkat, sehingga
ahli kimia organik berusaha mensintesa senyawa yang sama, mirip atau berfungsi
mirip di laboratorium (in
vitro). Meniru proses in vivo di laboratorium (in vitro) tentu
sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semi
sintetik. Proses semi sintetik mencakup transformasi metabolit primer dan
sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat.
Di
laboratorium kimia organik tentu saja ahli kimia organik sintetik sangat intens
melakukan penelitian semisintetik. Demikian juga halnya ahli kimia indutri
telah banyak menghasilkan produk sintetik seperti berbagai surfaktan, pupuk
kimia, bahan-bahan farmasi, polimer (aneka plastik), zat warna, pestisida,
bahan pewangi dan parfum, deterjen dan berbagai bahan desinfektan dan
lain-lain.
Berbagai
cara telah dilakukan oleh para ahli agar sintesa senyawa organik semakin
maksimal dan semakin banyak jenis senyawa organik yang dihasilkan melalui
proses sintetik.
Pedoman
yang sangat penting untuk mencipta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi
adalah dua hal sebagai berikut :
1. Analisis
a. Mengenal gugus fungsional dan molekul
target (MT)
b. Melakukan diskoneksi dengan metode yang
berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin
c. Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil
pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting material
2. Sintesis
a. Membuat rencana berdasarkan analisis
starting material dan konsisi sintesis
b. Bila tidak berhasil dalam sintesa
dilakukan pengkajian ulang analisis.
Dengan
demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis
dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik
maupun jenis-jenisnya serta mekanisme-mekanismenya.
Pendekatan Diskoneksi Beberapa Golongan Senyawa Organik
a. Senyawa aromatic
Reaksi
terhadao senyawa aromatik khususnya derivat benzena adalah substitusi
elektrofilik, sehingga analisis didasarkan pada reaksi tersebut.
b. Senyawa Organo Halida
Terdapat
dua macam senyawa organo halida yaitu organo halida aromatik (Ar-X) dan halida
alifatik (R-X). Untuk halida aromatik, melalui halogenasi (X2) yang umumnya
adalah Cl2 dan Br2 dengan katalis AlX3 atau FeX3. Sedangkan untuk halida
alifatik reaksi sintesanya lazim melalui reaksi substitusi nukleofilik. Walapun
halida adalah merupakan nukleofil yang relatif lemah namun dengan penggunaan
katalis akan dapat mengganti gugus (-OH) dari suatu alkohol. Reaktivitas
alkohol adalah : tersier > sekunder > primer. Katalis yang biasa
digunakan adalah asam yang akan memprotonasi gugus (-OH), menjadi H2O+ yang
merupakan suatu gugus pergi yang sangat baik
c. Senyawa alcohol
Alkohol
lazin disintesa dengan mereaksikan senyawa karbonil dengan pereaksi Grignard
(R-MgX) dengan reaksi umum sebagai berikut
Formaldehida + R-MgX
Alkohol 1
Aldehid + R-MgX
Alkohol 2
Keton + R-MgX
Alkohol 3
Untuk
alkohol 1 maka gugus samping (-R) dari alkohol tergantung dari pereaksi
Grignard, sedangkan untuk alkohol 2 dan 3 tergantung pada pereaksi serta
aldehid dan ketonnya
d. Senyawa Eter dan Tioeter (Eter Sulfida)
Golongan
eter (R-O-R) dan tioeter (R-S-R) mempunyai struktur yang mirip karena baik O
maupun S berada pada satu golongan pada SPU yaitu golongan VIA. Sintesa eter
paling lazim adalah melalui mekanisme Sn yang dikenal dengan sintesa Williamson
dengan (RO = alkoksi atau PhO = fenoksi) sebagai nukleofil)
e. Senyawa Karbonil
Senyawa
karbonil adalah merupakan turunan atau derivat asam karboksilat melalui jalur
sintesa melalui pendekatan diskoneksi.
f.
Senyawa
alkena
Sintesa
alkena adalah melalui jalur eliminasi dan yang umum adalah eliminasi air dari
suatu alkohol (dehidrasi) atau dehidrogenasi (eliminasi HX). Sesuai dengan
Hukum Sayitzev maka alkena yang banyak substituennya akan lebih muda terbentuk
(stabilitas termodinamika)
Kemoselektivitas dan Gugus Pelindung
Reaksi
kemoselektif artinya bahwa pereaksi hanya bereaksi dengan gugus fungsional yang
dikehendaki (tertentu) atau hanya bereaksi sampai pada tahapan tertentu atau
menghasilkan suatu produk dengan stereokimia tertentu (stereoselektif).
Pada
prakteknya kemoselektivitas ini dilakukan dengan cara melindungi gugus yang
tidak dikehendaki untuk berekasi dengan suatu gugus pelindung (protecting
group). Pada akhir reaksi gugus pelindung dilepaskan dengan suatu pereaksi
tertentu.
Gugus Pelindung
Gugus
pelindung adalah gugus fungsi yang digunakan untuk melindungi gugus tertentu
supaya tidak turut bereaksi dengan pereaksi atau pelarut selama proses
sintesis. Deproteksi adalah penghilangan atau reduksi gugus pelindung menjadi
gugus fungsi awal yang dilindungi.
Syarat
pemilihan gugus pelindung :
1.
Mudah dimasukkan dan dihilangkan
2.
Tahan terhadap reagen yag akan menyerang gugus
fungsional yang tidak terlindungi
3.
Stabil dan hanya akan bereaksi dnegan pereaksi
khusus untuk mengembalikan gugus fungsi aslinya
4.
Gugus pelindung seharusnya tidak mengganggu
reaksi yang dilakukan sebelum dihapus
Penghilangan
gugus pelindung dapat terjadi karena :
1.
Solvolisis dasar
penguraian oleh pelarut. Contoh : hidrolisis,
alkoholisis
2.
Hidrogenolisis
3.
Logam berat
4.
Ion fluoride
5.
Fotolitik
6.
Asam/basa
7.
Elektrolisis
8.
Eliminasi reduktif
9.
β-eliminasi
10. Oksidasi
11.
Substitusi nukleofilik
12.
Katalisis logam transisi
13.
Enzim
Misalnya, dalam konversi etil
5-okso-hexanoat (1.76) menjadi 6-hidroksi-2-hexanon (1.77), diperlukan untuk
memblokir gugus keton pertama dan kemudian gugus ester berkurang dengan LiAlH4. Gugus keton dilindungi sebagai asetal
karena gugus asetal tidak bereaksi dengan reduktor LiAlH4. Pada tahap akhir gugus asetal
dihilangkan dengan pnambahan asam. Keseluruhan skema transformasi ini diberikan
dalam Skema 1.17.
Alkil eter dan alkoksialkil
Eter
tetrahidropiranil yang stabil untuk basis dan perlindungan akan dihapus oleh
asam-katalis hidrolisis. Misalnya, geraniol (1.60) dilindungi sebagai geraniol
tetrahidropiranil eter (1.80) di hadapan piridinium p-toluenesulfonate (PPTs)
reagen. Ini adalah eter dibelah dengan PPTs di ethanol 39 hangat (Skema 1.19).
Eter silil
Alkohol bereaksi cepat dengan
trialkilsilil klorida (R3SiCl)
untuk memberikan trialkilsilil ethers59 (ROSiR3) dengan adanya basis amina
seperti trietilamina, piridin,
imidazole atau 2,6-lutidine (Tabel 1.2). Tidak seperti 3-alkil halida, klorida
trialkilsilil (R3SiCl)
menjalani substitusi nukleofilik dengan mekanisme yang mirip dengan SN2 tersebut. Anion enolat yang
diperoleh dari alkohol bereaksi dengan klorida trialkilsilil
(R3SiCl), menghasilkan
eter trialkilsilil (R3SiOR)
oleh substitusi pada oksigen. Kekuatan luar biasa dari Si-O obligasi
dikombinasi lagi C-Si panjang ikatan
(Crowding kurang sterik) berfungsi untuk menstabilkan transisi seperti yang
ditunjukkan dalam Skema 1,28.
Gugus pelindung diol
secara umum
Diol (1,2
dan 1,3) secara umum melindungi O,O-asetal dan ketal. Asetal adalah senyawa
dengan struktur umum RR1 C
(OR2) (OR3), dimana R dan R1 mungkin adalah H (tapi tidak diperlukan),
tetapi R2 dan
R3≠ H. Ketal adalah
bagian dari asetal dimana baik R maupun R1 adalah H.
Gugus
pelindung amina secara umum
Gugus pelindung Imida dan amida: Kelompok ftalimida telah berhasil
digunakan untuk melindungi gugus amino. Pembelahan dari N-alkilftalimida (1,81)
mudah dilakukan dengan hidrazin, dalam larutan panas atau dalam dingin untuk
waktu yang lama untuk memberikan 1,82 dan amina. Basa-katalis hidrolisis
N-alkilftalimida 1.81 juga memberikan yang sesuai amina (Skema 1,32).
Tabel Gugus Pelindung
Gugus
|
Gugus
Pelindung
|
Penambahan
|
Penghilangan
|
Ketahanan
Gugus Pelindung
|
Pereduksi
Gugus Pelindung
|
Aldehid
(RCHO)
|
Asetal
(RCH(OR’)2)
|
R’OH,
H*
|
H*/H2O
|
Nukleofil,
basa, reduktor
|
Elektrofil,
oksidator
|
Keton
|
Asetal
(ketal)
|
H*/H2O
|
Nukleofil,
basa, reduktor
|
Elektrofil,
oksidator
|
|
Asam
(RCOOH)
|
Ester
RCOOMe
RCOOEt
RCOOCH2Ph
RCOOBu-t
RCOOCH2CC3
Anion
RCOO-
|
CH2N2
EtOH/H*
PhCH2OH/H*
H*,
t-BuOH/H
Cl3CCH2OH
Basa
|
HO*/H2O
H2,
kat atau HBr
H*
Zn.MeOH
Asam
|
Basa
lemah, elektrofil
Nukleofil
|
Basa
kuat, nukleofil, reduktor
Elektrofil
|
Alkohol
(ROH)
|
Eter
ROCH2Ph
Asetal
THP
MEM
Ester
RCOOR’
|
PhCH2Br
Basa
R’COCl
Piridina
|
H2,
kat/HBr
H*/H2O
ZnBr2
NH3,
MeOH
|
Elektrofil,
basa, oksidasi
Basa
Basa
Elektrofil,
basa, oksidasi
|
HX(X-nukleofil)
Asam
Asam
Nukleofil
|
Fenol
Ar-OH
|
Eter
ArOMe
Asetal
ArOCH2Ome
|
Me2SO4
K2CO3
MeOCH3Cl
Basa
|
HI,
HBr atau BBr3
HOAc,
H2O
|
Basa,
elektrofil lemah
Basa,
elektrofil lemah
|
Serangan
oleh elektrofil pada cincin
Serangan
oleh elektrofil pada cincin
|
Amina
R-NH2
|
Amida
RNHCOOR’
Uretan
RNHCOOR’
Flalimida
|
R’OCOCl
Kloroformat
R’OCOCl
Anhidrida
ftalat
|
HO-/H2O
H+/H2O
R’=CH2Ph
H2,
kat/HBr
R’=Bu-t
H+
NH2NH2
|
Elektrofil
Elektrofil
Elektrofil
|
Basa,
nukleofil
Basa,
nukleofil
|
Tiol
|
HO-/H2O
|
Elektrofil
|
Oksidasi
|
||
RSH
|
AcSR
|
RSH
+ AcCl +Basa
|
HO-/H2O
|
Elektrofil
|
Oksidasi
|
Sumber
: Sitorus, Marham. 2008. Kimia Organik Fisik. Graha
Ilmu. Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar